MERAIH NIKMAT DALAM SHALAT

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

7 menit dengan 23 rakaat shalat, pernah mendegar kabar ini? Shalat tarawih tercepat di dunia. Ditambah mengherankan lagi adalah jama`ahnya 5000 jama`ah -katanya-. Plus kejadiannya di sebuah PONDOK PESANTREN, Ponpes Mamba’ul Hikam, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Kita tak hendak menghakimi mereka, namun kita hendak mempelajari apa yang datang dari Nabi kita tentang bagaimana agar shalat terasa nikmatnya.

Allah Ta`ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (atau lembah di neraka)”. (Surat Maryam: 59).

Bila kita perhatikan, dan ini nyata, ada sebagian orang mengerjakan shalat, namun tidak berefek baik pada kehidupan mereka. Mereka yang tidak memperhatikan adab-adab shalat, tidak serius menunaikan rukun dan adabnya, hanya gerakan fisik saja namun kosong dari kekhusyu`an. Mereka yang menjadikan shalat itu hanya gerakan seremonial badan tanpa ada ruh dan hati. Niscaya di luar shalat tetap saja bertutur kata kotor, berprilaku buruk, tak segan memakan haram, dan berbagai kemaksiatan lain yang masih ia langgar!

Padahal mestinya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, Lalu mengapa shalat mereka tidak membawa semerbak wangi pada perangai mereka?

Jawabannya adalah, karena ruh shalat belum bisa mereka hadirkan, yaitu khusyu`. Allah -Subhanahu wa Ta`ala- mensifati kaum Mukminin bahwa mereka itu bersifat khusyu` dalam shalatnya dan sebagai balasannya maka Allah akan memberikan kemenangan dan keberuntungan bagi mereka. Allah Ta`ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya: “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (Surat Al-Mu’minun: 1-2).

Imam Ibnu Rajab berkata: “Asal (sifat) khusyu’ adalah kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia (kepada Allah Ta’ala). Tatkala Hati manusia telah khusyu’ maka semua anggota badan akan ikut khusyu’, karena anggota badan (selalu) mengikuti hati, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”.

Maka jika hati seseorang khusyu’, pendengaran, penglihatan, kepala, wajah dan semua anggota badannya ikut khusyu’, (bahkan) semua yang bersumber dari anggota badannya”. (Lihat Kitab Al-Khusyu’ Fish-shalah halaman 11-12).

Inilah jalan kaum salaf dalam shalat mereka. Yaitu mereka yang menghadirkan rasa takut ketika menghadap Allah Ta`ala dalam shalat, niscaya hatinya menjadi khidmat dan khusyuk, sehingga khusyuknya menjalar pada anggota badan, raut wajah dan gerakan mereka, karena mereka menyadari keagungan Allah Ta`ala. Saat shalat, hilang dari benak mereka semua urusan duniawi, karena mereka tengah bermunajat kepada Allah -Subhanahu wa Ta`ala-.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat (mengatakan) bahwa khusyu’ tempatnya dalam hati dan buahnya (tandanya terlihat) pada anggota badan”. (Lihat Madarijus saalikiin [1/521]).

Shalat adalah saat hadirnya ketenangan hati yang hakiki. Seperti sabda Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam-:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Artinya: “Dan dijadikan kesejukan pandanganku di dalam shalat”. (Riwayat An-Nasa`I no. 3939, dishaihihkan oleh Al-Hakim [II/174], disepakati oleh Adz-dzahabi, dishahihkan oleh ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari [III/15 dan XI/345].

Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- juga bersabda:

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

Artinya: “Wahai Bilal, bangunlah,  rehatkan kami dengan shalat”. (Riwayat Abu Dawud no. 4986, Ahmad [V/364, 371, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Al-Misykat no. 1253).

Inilah ketenangan yang hakiki. Ia sadar bahwa tatkala bertakbir mengangkat tangannya, sejatinya ia tengah menggagungkan Allah Ta`ala. Bila menyedekapkan tangan kanan di atas tangan kiri, sebenarnya ia tengah merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, seperti yang dikatakan Imam Ahmad.

Inilah sikap muslim dalam shalatnya. Ia pererat tautannya dengan Allah, agar bisa meraih janji Allah -Subhanahu wa Ta`ala- . Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءها ؛ وَخُشُوعَهَا، وَرُكُوعَهَا ، إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوب مَا لَمْ تُؤتَ كَبِيرةٌ ، وَذلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim di mana tiba shalat fardhu, lalu ia memperbagus wudhu, khusyuk dan rukuk dari shalatnya, melainkan itu (shalatnya) menjadi kaffarah penghapus dosa yang sebelumnya, selama dosa besar tidak ia langgar. Dan itu berlangsung sepanjang masa”. (Riwayat  Muslim no. 367).

Kedudukan khusyuk dalam shalat seperti kedudukan kepala dalam tubuh manusia. Orang yang shalat sedangkan hatinya berputar-putar menerawang dunia, maka syetan akan mencuri shalatnya. Yaitu dengan banyak menoleh, banyak  bergerak mempermainkan tubuh atau pakaiannya. Kadang ia tidak thuma’ninah, tidak sadar dan tidak paham dengan yang ia baca. Maka dikhawatirkan shalatnya akan tertolak. Seperti sabda Rasul -shallallahu `alaihi wa sallam-:

إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ صَلَاتَهُ؟ قَالَ: ” لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا وَلَا خُشُوعَهَا

Artinya: “Sesungguhnya orang mencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya.” Sahabat bertanya: “Bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab: “Ia tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan khusyuknya’. (Riwayat Ahmad [V/310], Al-Hakim [I/229], dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami` no. 986).

Ketika hati manusia mengeras, manusia pun enggan mencari ilmu agama, maka banyaklah terlihat orang yang merusak shalat mereka. Ada yang shalat, namun tetap berbuat keji dan munkar. Atau berbuat hal yang merusak aqidahnya, atau bertabrakan dengan dasar-dasar Islam. Ia tetap memakan riba, korupsi, menyuap, minum minuman memabukkan, dan lainnya. Mereka ini yang juga shalat, apakah telah mendirikan shalat dengan baik dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik mungkin?!

Demi Allâh! Sekiranya mereka menunaikannya dengan benar, tentu mereka akan menghentikan semua hal yang haram. Hanya saja, mereka ini telah menyia-nyiakan inti shalat, yaitu khusyu`.

Ubadah bin Ash-Shamit -adhiyallahu `anhu- berkata: “Ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia adalah khusyuk. Hampir-hampir engkau memasuki masjid yang diadakan jama`ah, namun tidak engkau lihat orang yang khusyu` di dalamnya”.

Akankah kita berkenan untuk kembali dengan benar pada ajaran Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam-  dalam segala hal, termasuk dalam menunaikan shalat? Semoga Allâh memberi taufiq kepada kita untuk mewujudkannya.

Bertakwalah wahai hamba Allâh! Marilah kita mengagungkan syiar-syiar agama ini. Jauhkan hati ini dari dominasi dunia, agar kita selalu bertaut kepada Allah -Subhanahu wa Ta`ala-, sehingga shalat kita pun khusyu` dan penuh khidmat.

AGAR HATI KHUSYU` DALAM SHALAT:

  1. Hadirkanlah hati dan renungilah keagungan Allah.
  2. Bersihkanlah hati ini dari segala hal yang membuat kita berpaling dari Allah -Subhanahu wa Ta`ala-.
  3. Janganlah menyibukkan hati dengan urusan dunia.
  4. Ramaikanlah hati ini dengan iman, dan tutup rapat-rapat celah-celah masuknya setan.
  5. Pandangilah tempat sujud. Janganlah mata ini berkeliaran dalam shalat.
  6. Letakkan tangan kanan kita di atas tangan kiri saat berdiri.
  7. Hayatilah apa yang kita baca, baik itu ayat Al-Qur’an maupun doa-doa shalat.
  8. Jagalah thuma`ninah!.
  9. Hindarilah sikap tergesa-gesa dan gerakan mendahului imam.
  10. Hindarilah gerakan-gerakan sia-sia dalam shalat.
  11. Berdo`alah kepada Allah agar diberi hati yang khusyu` dan ilmu yang bermanfaat, karena khusyu` adalah buah dari ilmu yang bermanfaat.

Yuk! perbaiki shalat kita. Bila memang seorang hamba punya keinginan kuat  mendapat kebaikan, Allah pun akan memberinya taufiq dan memudahkannya. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Surat Al-Ankabut: 69).

Semoga bermanfaat. Segala puji untuk Allah yang dengan nikmat-Nya terselesaikan amal-amal shalih.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa 23 Jumaadal Uula 1440 H/29 Januari 2019 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *