FAEDAH AQIDAH AHLUSSUNNAH UNTUK PEMULA (Bagian Ke 1) MAKNA `AQIDAH DAN URGENSINYA SEBAGAI LANDASAN AGAMA

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

MAKNA `AQIDAH DAN URGENSINYA SEBAGAI LANDASAN AGAMA

1). Tauhid dan `Aqidah merupakan istilah syar’i yang sering kita jumpai baik dalam buku-buku maupun ceramah Islam. Apa perbedaan istilah tersebut dan cakupan bahasannya? Berikut ulasan ringkasnya.

Pembahasan Islam dilihat dari topik bahasannya mencakup 2 bagian:

(1). Aqidah

(2). Amaliyah

Pembahasan aqidah berkenanan dengan keyakinan, adapun amaliyah berkenanan amaliah seorang muslim. Pembahasan tentang Thaharah, Shalat, Puasa, Dzikir dan seterusnya merupakan amaliah, adapun iman kepada Allah, kepada Malaikat, dan seterusnya merupakan pembahasan Aqidah.

2). Lalu, apa bedanya antara tauhid dan aqidah?

Secara bahasa: Tauhid merupakan masdar/kata benda dari kata wahhada – yuwahhidu, tauhiidan yang artinya menunggalkan sesuatu, memilih satu dari sesuatu yang banyak. (Lihat Al-Mu`jam Al-Wasith hal. 1016).

Secara istilah syar’i: Mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara Rububiyah (penciptaan, pengaturan, dan kepemilikan), Uluhiyah (penyerahan ibadah) dan asma’ wa shifat (pemberian nama dan shifat untuk Allah).

Secara bahasa: Aqidah diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” yaitu pengikatan.

Secara istilah syar’i: Aqidah adalah ikatan iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

3). Apa saja cakupan bahasan aqidah?

Syaikh DR. Sholeh Fauzan dalam kitabnya “Min Ushul Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama`ah” memaparkan 9 prinsip pokok dalam Aqidah. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

(1). Rukun Iman

– Iman kepada Allah

– Iman kepada para malaikat-Nya

– Iman kepada Kitab-kitab-Nya

– Iman kepada para Rasul-Nya

– Iman kepada Hari akhir

– Iman kepada Taqdir yang baik dan buruk

(2). Iman mencakup perkataan, perbuatan dan keyakinan, iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.

(3). Perbuatan dosa selain syirik dan kekufuran tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

(4). Wajibnya taat kepada pemerintah Muslim dalam hal yang bukan maksiat.

(5). Larangan memberontak kepada pemerintah selama pemerintah masih muslim.

(6). Larangan mencela para sahabat Nabi.

(7). Mencintai Ahli Bait Nabi.

(8). Membenarkan adanya karomah para wali.

(9). Berdalil dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara lahir dan bathin serta mengikuti apa-apa yang dijalankan oleh para sahabat Nabi. (Lihat: Min Ushul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah Karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17-39).

Kesembilan pokok aqidah tersebut didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an  dan Al-Hadits sesuai dengan yang dipahami oleh generasi awal umat ini. Aqidah shahihah/yang benar tersebut dikenal dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun aqidah/keyakinan yang menyelisihi aqidah tersebut disebut dengan  Aqidahnya Ahlu Bid’ah.

4). Apa saja cakupan bahasan tauhid?

Adapun bahasan Tauhid merupakan bagian dari pembahasan aqidah, yakni bahasan aqidah yang membahas khusus berkenaan dengan Rukun Iman (yakni Iman kepada Allah). Sehingga Cakupan bahasan Tauhid meliputi:

  1. Tauhid Rububiyah
  2. Tauhid Uluhiyah
  3. Tauhid Asma wa Sifaat

5). Dengan demikian dapat dipastikan bahwa setiap Tauhid adalah Aqidah. Namun, setiap Aqidah belum tentu Tauhid. Di antara bukti-bukti bahwa ilmu tauhid adalah ilmu yang sangat bahkan paling penting adalah:

(1). Keutamaan ilmu itu diukur seberapa butuhnya kita terhadapnya.Ilmu tentang tauhid adalah sepenting-penting ilmu di alam dunia ini, bahkan lebih penting dibanding ilmu syar`I yang lainnya.

Misalnya, keutamaan ilmu kesehatan adalah seukuran butuhnya kita kepada rasa sehat. Keutamaan ilmu matematikan adalah seukuran butuhnya kita kepada perkara menghitung. Keutamaan ilmu bahasa Indonesia adalah seukuran butuhnya kita kepada komunikasi berbahasa yang benar. Keutamaan ilmu tentang Allah adalah seukuran butuhnya kita kepada Allah. Kita mempelajari ilmu ekonomi karena apa? Takut salah dalam hal bisnis. Kita mempelajari ilmu sholat dan puasa karena apa? Takut shalat dan puasa kita salah. Maka kita belajar tauhid, mengenal tentang Allah karena apa? Karena takut salah dalam beribadah, takut menyimpang, takut terjerumus dalam kesyirikan.

Sekali lagi, Ilmu tentang tauhid adalah sepenting-penting ilmu di alam dunia ini, karena untuk mentauhidkan Allah-lah manusia dan jin diciptakan. Dan tidak ada satupun para nabi dan rasul yang diutus di muka bumi ini melainkan berdakwah mengajak untuk mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

(2). Aqiidah yang benar adalah pondasi bagi bangunan agama serta merupakan SYARAT SAHnya suatu amal. Sebagaimana Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Surat Al-Kahfi: 110).

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi”. (Surat Az-Zumar: 65).

Ayat-ayat ini dan yang semakna dengannya menunjukkan bahwa segala amal tidak akan diterima jika tidak bersih dari kesyirikan.

(3). Hal pertama yang didakwahkan para Rasul kepada ummatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan seluruh jenis yang dijadikan tuhan selain Allah. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”. (Surat An-Nahl: 36).

(4). Setiap Rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya dengan kalimat:

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Artinya: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia.”. (Surat Al-A`raf: 59, 65, 73, 85).

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu`aib,  dan seluruh Rasul.

(5). Sejak diutus sebagai Nabi, Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- berdakwah di makkah selama 13 tahun mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqiidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da`I dan para pelurus agama agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para Rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai berdakwah dengan ajakan kepada tauhid dan pelurusan aqiidah, setelah itu barulah mereka mengajak kepada seluruh perintah agama yang lainnya.

Silahkan juga membaca tulisan kami dengan tema Mengapa Harus Aqidah Dulu?

Semoga bermanfaat!! Tulisan ini adalah faidah kajian Aqiidah Di Masjid Al-Muhajirin Desa Ogoansam Kec. Palasa Sulawesi Tengah. Kamis Malam Jum`at Akhir Bulan, 18 Dzulhijjah 1439 H/30 Agustus 2018 M. Kajian Ini Banyak Merujuk Pada Buku At-Tauhiid Lish-Shaffil Awwal Al-`Ali Karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Jum`at 19 Dzulhijjah 1439 H/31 Agustus 2018 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *