FAEDAH AQIDAH AHLUSSUNNAH UNTUK PEMULA (Bagian Ke 9) AGAMA (ISLAM) MENCAKUP TIGA TINGKATAN

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

Pernah suatu ketika malaikat Jibril datang kepada Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- saat para shahabat sedang bersama beliau, malaikat menanyakan perihal Islam, Iman dan Ihsan. Dan di akhir kisah Nabi menjelaskan kepada para shahabat bahwa Malaikat Jibril datang untuk mengajarkan agama. Kisah selengkapnya terdapat dalam riwayat Muslim, no. 8).

Dari hadits tersebut kita mendapat faidah bahwasannya Islam, Iman dan Ihsan adalah bagian penting dalam beragama. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas secara singkat tentang ketiga hal tersebut. Agar memudahkan pembaca, maka pembahasan ini akan kita bagi menjadi beberapa point penting:

1. PENGERTIAN AGAMA

Agama, atau dalam bahasa Arab disebut Ad-Dien, maknanya adalah ketaatan. Dien juga disebut millah (kecondongan), dilihat dari segi ketaatan dan kepatuhan kepada syari’at. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ ……  ١٩

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”. (Surat Ali Imran: 19).

2. ALLAH TIDAK MENERIMA AGAMA KECUALI ISLAM SAJA

Setelah datangnya agama yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad –shallallahu `alaihi wa sallam-, maka agama lainnya seperti Nashrani dan Yahudi adalah agama yang bathil yang tidak diridhai oleh Allah. Allah berfirman:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ  ٨٥

Artinya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Surat Ali Imran: 85).

Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

والذي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، لا يَسْمَعُ بي أحَدٌ مِن هذِه الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، ولا نَصْرانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ ولَمْ يُؤْمِنْ بالَّذِي أُرْسِلْتُ به، إلَّا كانَ مِن أصْحابِ النَّارِ

Artinya: “Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah seorang pun di kalangan umat ini, Yahudi atau Nasrani, mendengar tentang aku, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka”. (Riwayat Muslim. No. 153).

3. DEFINISI ISLAM

Islam secara bahasa berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya kepada Allah. Sedangkan Islam menurut istilah syar`I adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan membebaskan diri dari kesyirikan dan dari para pelaku kesyirikan. (Lihat: Syarah Tsalatsatul Ushul, hal. 67. Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin).

Dalam hadits Jibril disebutkan tentang makna Islam, Iman dan Ihsan sebagai berikut (artinya): “Dari Umar -radhiyallahu `anhu- pula dia berkata: pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam-, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas melakukan perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- dan mendekatkan lututnya ke lutut Nabi, lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata: Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?!. Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab: Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, engkau menunaikan zakat, engkau berpuasa Ramadhan dan engkau berhaji ke Baitullah Al-Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana. Laki-laki tersebut berkata: Engkau benar. Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. Dia berkata lagi: Jelaskan kepadaku tentang iman?!. Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab: (Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan taqdir buruk. Ia berkata: Engkau benar. Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: Jelaskan kepadaku tentang ihsan?!. Beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: (Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Diamelihatmu. Dia berkata: Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?!. Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab:  Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya. Ia berkata lagi: Jelaskan kepadaku tentang tanda-tandanya! Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab: Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian saling berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan.

Umar -radhiyallahu `anhu- berkata: Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam beberapa saat. Maka Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bertanya kepadaku: Wahai `Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu? Aku pun menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.  Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: Dia adalah Jibril, Ia datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian”. (Riwayat Muslim no. 8).

Di dalam hadits tersebut, Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- mendefinisikan Islam dengan amalan-amalan anggota badan yang tampak berupa perbuatan dan perkataan. Islam adalah agama yang berlandaskan atas lima dasar:

(1). Mengucapkan dua kalimat syahadat, ini adalah amalan lisan.

(2). Menunaikan shalat wajib pada waktunya, ini adalah amalan badan dan lisan.

(3). Membayar Zakat, ini adalah amalan harta.

(4). Berpuasa Ramadhan, ini adalah amalan badan.

(5). Menunaikan ibadah haji bila mampu, ini adalah amalan badan dan harta.

4. PENJELASAN RUKUN ISLAM

Yang pertama dari rukun Islam adalah seorang muslim harus bersyahadat dengan lisan dan meyakini syahadat tersebut dalam hatinya. Ketahuilah, semoga Allah merahmati kita, bahwa makna kalimat syahadat “laa ilaha illallah” yang benar adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, bukan tidak ada tuhan selain Allah. Dengan persaksian bahwa tidak ada sesembahahan yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, maka seseorang harus ikhlas dalam setiap ibadahnya untuk Allah, tidak untuk selain-Nya. Adapun tentang syahadat Muhammad rasulullah, yang maknanya adalah bahwa Muhammad itu itusan Allah maka seseorang harus beribadah sesuai dengan apa yang beliau ajarkan, tidak boleh berbuat bid`ah dalam ibadah.

Dengan rukun pertama ini seseorang dianggap masuk Islam, walau pun belum mengerjakan empat rukun yang lainnya, namun ia tetap harus menyempurnakan keislamannya dengan rukun yang lain. Empat rukun yang lain tersebut (shalat, zakat, puasa, haji) biasanya dibahas dalam kitab-kitab fiqih.

Sebagian ulama menganggap kafirnya orang yang tidak shalat, sehingga dapat kita pahami bahwa batasan kadar wajib dalam rukun Islam adalah dengan bersyahadat dan shalat fardhu (wajib). Jika seorang muslim tidak melaksanakan kedua rukun Islam ini, maka pada saat itu barulah tidak disebut sebagai islam.

Penjelasan tentang syahadat ini telah kami ulas dalam buletin minhajussunnah.or.id edisi enam dan tujuh, silahkan merujuk ke sana.

5. DEFINISI IMAN

Definisi iman adalah adalah pengakuan dan pembenaran. Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- mendefinisikan iman dalam hadits ini sebagai keyakinan yang ada dalam bathin. beliau -shallallahu `alaihi wa sallam- menjawab dalam hadits tersebut tentang iman bahwa iman adalah:

(1) Engkau beriman kepada Allah

(2) Beriman kepada malaikat-Nya

(3) Beriman kepada kitab-kitab-Nya

(4) Beriman kepada rasul-rasul-Nya

(5) Beriman kepada hari akhir

(6) Beriman kepada takdir yang baik dan buruk

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa iman memiliki enam rukun. Apabila salah satu rukun ini tidak dipenuhi maka tidak disebut orang beriman.

6. PENJELASAN RUKUN IMAN

BERIMAN KEPADA ALLAH, adalah meyakini bahwa Allah itu ada, juga meyakini bahwa Allah memiliki hak rububiyyah (menciptakan mengatur, memiliki dan memelihara), juga meyakini bahwa Allah memiliki hak uluhiyyah (diibadahi dengan benar dan tidak disekutukan dengan sesuatu apa pun), juga meyakini asma’ dan shifat Allah (bahwa Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna yang tidak boleh seseorang mensifati-Nya dengan makhluk-Nya, tidak boleh nama dan sifat tersebut ditolak keseluruhan maupun sebagiannya).

BERIMAN KEPADA MALAIKAT-NYA, adalah mengimani bahwa Allah memiliki makhluk yang disebut malaikat, makhluk ini diciptakan dari cahaya, jumlahnya sangat banyak dan memiliki tugas tertentu, di antaranya adalah ada yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi, ada yang bertugas membagi rezeki, mencatat amal manusia dan tugas lainnya. Malaikat adalah makhluk yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah dan selalu bertasbih kepada-Nya.

BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB-NYA, adalah meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para rasul yang dikehendaki-Nya; kitab tersebut adalah kalam-Nya (firman-Nya); dan di antara kitab-kitab tersebut adalah Al-Qur’an, Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim, shuhuf Musa. Kitab-kitab yang Allah turunkan ini adalah rahmat dan hidayah bagi seluruh manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL-NYA, adalah meyakini dengan yakin (tanpa ragu-ragu) bahwa Allah mengutus rasul kepada hamba-Nya; Rasul pertama adalah Nuh dan rasul terakhir adalah Muhammad -shallallahu `alaihi wa salam-, seseorang harus beriman kepadanya dan mengikuti petunjuknya. Mengimani rasul-rasul-Nya adalah membenarkan risalah mereka, mengimani nama-nama yang sampai kepada kita dari Al-Qur’an maupun hadits yang shahih, membenarkan berita-berita yang mereka bawa, dan mengamalkan syariat yang disampaikan Rasul kepada kita.

BERIMAN KEPADA HARI AKHIR, adalah meyakini bahwa Allah menjadikan suatu hari di mana manusia akan dihidupkan lagi setelah matinya, mereka akan dibangkitkan dari kubur-kubur, mereka akan dihisab (diperhitungkan), akan bertemu Rabb mereka dan setiap orang akan dibalas, orang-orang yang berbuat kebaikan akan dibalas dengan surga sedangkan orang yang kufur akan dimasukkan ke dalam neraka.

BERIMAN KEPADA TAKDIR YANG BAIK DAN BURUK, adalah meyakini bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi dan Allah telah mencatatnya di Lauhul Mahfuzh, meyakini pula bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan meyakini bahwa segala sesuatu telah diciptakan-Nya termasuk perbuatan hamba sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya yang Maha Adil dan bijaksana.

7. DEFINISI IHSAN

Dalam hadits Jibril di atas, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- menjelaskan mengenai ihsan yaitu “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya ketahuilah bahwa Allah melihatmu”. Itulah pengertian ihsan dan rukunnya.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Badr mengatakan: “artinya engkau beribadah kepada-Nya seolah-olah engkau berdiri di hadapan-Nya melihat-Nya. Barangsiapa yang seperti ini keadaannya, maka sesungguhnya ia telah melaksanakan ibadah dengan sempurna. Jika tidak demikian, maka dia harus meresapi dan menyadari bahwa Allah melihatnya dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.sehingga dia berhati-hati jangan sampai Allah melihatnya melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Karenanya dia beramal agar dilihat-Nya sesuai dengan perintah-Nya.

Beliau juga mengatakan: “Ihsan merupakan derajat yang paling tinggi (dari tiga tingkatan islam, iman dan ihsan), tingkat di bawahnya adalah iman, dan tingkat dibawahnya lagi adalah islam. (Lihat: Fathu Al-Qawiy Al-Matin Fii Syarhil Arba`in, hal. 26).

Inilah sedikit penjelasan tentang tiga tingkatan dalam beragama (islam), semoga Allah membimbing kita di atas jalan yang lurus.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Jum`at 19 Shafar 1444 H/ 16 September 2022 M.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *