FAEDAH AQIDAH AHLUSSUNNAH UNTUK PEMULA (Bagian Ke 2) SUMBER `AQIDAH YANG BENAR

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

SUMBER AQIDAH YANG BENAR ADALAH AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH DENGAN MENGIKUTI PEMAHAMAN PARA SHAHABAT –radhiyallahu`anhum-

Dalam pembahasan ini akan kami bagi menjadi beberapa point penting, semoga Allah memudahkan kita untuk memahaminya.

1. PERKARA AQIDAH ITU MENGIKUTI ATURAN ALAH
Asy-Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan –Hafizhahullah- mengatakan: “Aqidah itu bersifat tauqifiyah. Sehingga `aqidah tidaklah ditetapkan kecuali berdasarkan dalil dari Pembuat Syari’at (Allah). Oleh sebab itu `aqidah bukanlah ranah/ tempat untuk akal dan ijtihad. Sumber aqidah hanya terbatas pada apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab tidak ada yang lebih mengetahui apa yang wajib (diimani) tentang Allah dan apa yang disucikan dari-Nya, selain  Allah. Demikian pula tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah setelah Allah melainkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Oleh sebab itulah manhaj salafus shalih (metode beragamanya para Shahabat) dan para ulama yang mengikuti mereka menjadikan sumber pengambilan aqidah terbatas hanya pada apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah”. (Lihat: Aqidatut Tauhid hal. 11 terbitan Maktabah Darul Minhaj).

Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita. Sumber `aqidah yang salah bisa membuahkan kesalahan fatal dalam keyakinan. `Aqidah Islam sebenarnya adalah `aqidah yang sangat mudah, karena sebatas keyakinan yang sumbernya tidak banyak, yakni hanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang shahih serta ijma` salaful ummah.

Syaikh DR. Nashir ‘Abdul Karim Al-‘Aql -hafizhahullah- mengatakan: “Sumber aqidah adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang shahih serta ijma’ salafus shalih (para shahabat)”. (Lihat: Mujmal Ushul Ahli Sunnah wal Jama’ah Fil Aqidah hal. 7 Terbitan Madarul Wathon).

Seseorang tidak boleh berkreasi dalam masalah `aqidah, misalnya membuat keyakinan berdasarkan dengan akalnya tanpa bimbingan wahyu dan ilmu. Contoh ringan adalah sebuah keyakinan tentang sialnya angka 13. Maka, pertanyaannya adalah bagaimana jika seseorang ditaqdirkan memiliki anak banyak, apakah anak ke 13 adalah pembawa sial? Tentu ini kedzoliman yang nyata.

Imam Al-Barbahari –rahimahullah- berkata: “Ketahuilah saudaraku, semoga Allah merahmatimu, bahwa agama Islam itu datang dari Allah -Tabaaraka wa Ta’ala-. Tidak disandarkan pada akal atau pendapat-pendapat seseorang. Janganlah engkau mengikuti sesuatu hanya karena hawa nafsumu. Sehingga akibatnya agamamu terkikis dan akhirnya keluar dari Islam. Engkau tidak memiliki hujjah. Karena Rasulullah -Shallallahu’alaihi Wasallam- telah menjelaskan As-Sunnah kepada ummatnya, dan juga kepada para sahabatnya. Merekalah (para sahabat) As-Sawaadul A’zham. Dan As-Sawaadul A’zham itu adalah Al-haq dan Ahlul Haq”. (Lihat: Syarhus Sunnah [I/66]).

As-Sawaadul A’zham adalah orang-orang yang ta’at kepada allah, dan mengikuti sunnah nabi -shallallahu `alaihi wasallam- dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat nabi, baik jumlah mereka banyak maupun sedikit.

2. BAGAIMANA ORANG-ORANG SHALIH TERDAHULU BERAQIDAH?
Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As-Suhaimi berkata: “Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut:

(1). Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu’alaihi Wasallam- serta memahaminya dengan pemahaman Salafus Shalih.

(2). Berhujjah dengan hadits-hadits yang shahih dalam masalah `aqidah, baik hadits-hadits tersebut mutawatir maupun ahad.

(3). Tunduk kepada wahyu serta tidak mempertentangkannya dengan akal. Juga tidak panjang lebar dalam membahas perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal.

(4). Tidak menceburkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat.

(5). Menolak ta’wil yang bathil.

(6). Menggabungkan seluruh nash yang ada dalam membahas suatu permasalahan.

‘Aqidah ini diambil dari sumber yang murni; Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, jauh dari hawa nafsu serta syubhat. Sehingga yang berpegang teguh dengannya selalu mengagungkan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah, karena tahu bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haq dan benar. (Lihat: Kun Salafiyyan ‘alal Jaaddah, karya: Asy Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi).

3. AQIDAH ISLAM DATANG UNTUK MEMFILTER TRADISI
`Aqidah Islam datang untuk memfilter tradisi, maka janganlah hal ini terbalik dengan membuat kaidah tradisi dijadikan filter saat Islam datang, seperti mereka-mereka yang ketika disampaikan Ilmu Islam yang benar selalu berteriak: bila sesuai dengan tradisi kami maka kami terima sedangkan bila tidak sesuai maka kami tolak. Yang benar adalah, bila terlanjur ada sebuah tradisi maka kita timbang tradisi tersebut dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bila sesuai maka kita ambil dan lestarikan sedangkan bila tidak sesuai maka kita tinggalkan.

Seperti itulah di antara tujuan diutusnya Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (Riwayat Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Mufrad no. 207), Ahmad [II/381], dan al-Hakim [II/613], dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihahno. 45).

4. SUMBER ‘AQIDAH YANG KELIRU
Berikut beberapa point tentang sumber `aqidah yang keliru, di antaranya:

(1). BERSUMBER DARI TRADISI
Menjadikan tradisi sebagai sumber ‘aqidah adalah kekeliruan fatal, baik tradisi nenek moyang atau pun membuat tradisi baru. Karena sebab mempertahankan tradisi-lah Abu Thalib enggan masuk Islam dan akhirnya mati di atas kekafiran. Saat Nabi –shallallahu`alaihi wa salllam- menawarkan syahadat, beliau berkata:

أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ

Artinya: “Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah. Dengan kalimat ini, akan aku bela engkau nanti di sisi Allah”.

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menanggapi di depan Abu Thalib dengan mengajak untuk mempertahankan agama tradisi:

أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

Artinya: “Apakah engkau membenci tradisi/agamanya Abdul Muthalib?”.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- terus menawarkan kepada pamannya syahadat Laa Ilaaha Illallah. Namun kedua orang itu juga terus menimpalinya. Akhirnya Abu Thalib mengatakan kepada mereka: “-aku- di atas agamanya Abdul Muthalib”. Ia enggan mengucapkan laa ilaha illallaah.

(2). BERSUMBER DARI MIMPI
Selain tradisi, di antara sumber `aqidah yang keliru adalah sebuah ‘aqidah yang diambil berdasarkan MIMPI. Mimpi tidaklah bisa dijadikan dalil, seandainya mimpi bisa dijadikan dalil dan penetap hukum baru dalam Islam, maka itu artinya Islam belum sempurna. Padahal Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “……Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu….”. (Surat Al-Maa’idah: 3).

(3). BERSUMBER DARI AKAL
Selain TRADISI dan MIMPI, di antara sumber `aqidah yang keliru adalah sebuah `aqidah yang diambil berlandaskan AKAL. Terkadang ada seseorang yang berani dengan lancang mengatakan bahwa ia tidak akan beriman pada perkara yang tidak masuk akal, maka ini adalah kesalahan fatal. Tidak semua syariat Islam ini mampu kita cerna dengan akal kita. Sebagaimana wajar tatkala mata kita tidak bisa menembus memandang benda yang jauh, maka mestinya kita memaklumi pula bila akal kita terbatas pemanfaatannya. Untuk mengimani hal-hal ghaib seperti adzab kubur, surga, neraka, maka akal kita hanya mampu tunduk dan pasrah pada dalil, bukan memaksa diri dengan menolak yang haq hanya karena keterbatasan akal yang lemah.

5. MENGAPA KITA MESTI MENGIKTU PARA SHAHABAT DALAM BER`AQIDAH?
Mengapa kita mesti mengiktu para shahabat dalam ber`aqidah? Jawabannya di antaranya adalah karena Allah memerintahkan kita untuk mengikuti mereka, Allah Ta`ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Artinya: “Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (Surat An-Nisaa’: 115).

Allah –Subhanahu Wa Ta`ala- juga berfirman:

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

Artinya: “dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku”. (Surat Luqman: 15).

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata: “kaum mukminin salafush-shalih adalah orang-orang yang kembali kepada Allah, maka wajib mengikuti jalan (manhaj) mereka”. (Majmu` fatawa  [XX/500]).

Allah –Subhanahu Wa Ta`ala- berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu), maka Allah akan memelihara kamu dari mereka, dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Surat Al-Baqarah: 137).

Memelalui ayat ini Allah menjadikan Iman para Shahabat Nabi –shallallahu `alaihi wa sallam- sebagai timbangan  (tolak ukur) untuk membedajan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenara dan kebathilan. Apabila ahli kitab meu beriman sebagaimana berimannya para Shahabat Nabi –shallallahu `alaihi wa sallam- maka sungguh mereka telah mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempuurna. Jika mereka (ahli kitab) berpaling (tidak mau beriman) sebagaimana berimannya para Shahabat, maka mereka –dianggap- terjatuh dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh.

Asy-Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan –Hafizhahullah- mengatakan: “Apa saja yang ditunjukkan Al Qur’an dan Sunnah tentang hak Allah Ta’ala maka mereka (para salafus sholeh) pun mengimaninya, menjadikannya aqidah dan beramal dengannya. Sebaliknya apa saja yang tidak ditunjukkan oleh Kitab Allah dan Sunnah Rosul Nya maka mereka (para shahabat Nabi) pun meniadakannya dari Allah Ta’ala dan menolaknya. Oleh sebab itu tidak terjadi perselisihan/ khilaf diantara mereka terkait masalah aqidah/keyakinan. Bahkan aqidah mereka adalah satu. Sebab Allah menetapkan adanya persatuan kalimat dan manhaj, serta benarnya aqidah  atas orang-orang yang berpegang dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah -Subhannahu wa Ta’ala- berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, …”. (Surat Ali Imran: 103).

Allah juga berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

Artinya: “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barang­siapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (Surat Thaha: 123). (Lihat Aqidatut Tauhid hal. 11 terbitan Maktabah Darul Minhaj).

Mereka (Ahlus-Sunnah Wal Jama`ah atau para Shahabat Nabi dan pengikutnya) dinamakan dengan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah men­jadi 73 golongan yang kesemuanya di Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang siapa yang satu itu, beliau menjawab:

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

Artinya: “Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku”. (Riwayat At-Tirmidzi no. 2641 dan al-Hakim [I/129] dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5343. Lihat Dar-ul Irtiyab `an Hadits Maa Ana `alaihi wa Ash-habii oleh Syaikh Salim bin `Ied Al-Hilali, cet. Daarur Rayah thn. 1410 H).

Maka seruan sebagian orang untuk meninggalkan manhaj (cara beragamanya) para sahabat dengan alasan sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan jaman yang ada, atau dengan alasan mereka sudah tinggal nama, tersisa sebagai kenangan saja, maka ini sungguh merupakan penghinaan kepada Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam-. Padahal, betapa kita ingat bagaimana pembelaan Allah kepada para shahabat ketika orang-orang munafik mengatakan bahwa mereka –para sahabat- adalah orang-orang yang dungu maka Allah membela dengan firman-Nya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Apakah kami akan berimankah seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal; tetapi mereka tidak tahu”. (Surat Al-Baqarah: 13).

Orang-orang munafiq pada zaman Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam- diajak untuk beriman sebagaimana orang-orang yang lain yang telah beriman, yang dimaksud dengan orang lain yang telah beriman adalah para Shahabat, mereka disuruh beriman sebagaimana imannya para Shahabat, di mana iman mereka tidak sekedar di lisan tetapi masuk ke hati dan diamalkan oleh anggota badan, mereka membantah dengan mengatakan, “Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang yang kurang akal itu beriman?” maka Allah membantah bahwa merekalah yang kurang akal, karena hakikat kurang akal adalah tidak mengetahui hal yang bermaslahat untuk dirinya dan mengerjakan sesuatu yang merugikannya.

Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kita. Sesungguhnya mengikuti jalan hidup para sahabat adalah perjuangan yang akan selalu dihalangi oleh musuh-musuh Dakwah Sunnah. Mereka tahu bahwa apabila kaum muslimin kembali kepada pemahaman para sahabat maka makar mereka untuk memporak-porandakan barisan kaum muslimin akan menjadi sia-sia. Tidakkah kita ingat ucapan emas dari Imam Malik rahimahullah:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

Artinya: “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya”.

Ungkapan ini memberikan sebuah pengertian bahwa yang telah menjadikan mereka baik adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang mulia. Itulah yang dapat memperbaiki mereka sampai hari qiamat.

Maka barangsiapa yang menghendaki perbaikan bagi masyarakat muslim atau yang lainnya di dunia ini tanpa menempuh jalan, faktor dan sarana yang memperbaiki generasi pertama ummat ini berarti ia telah menempuh jalan tanpa alamat yang benar. Karena tidak ada jalan lain kecuali itu.

Semoga bermanfaat!! Tulisan ini adalah faidah kajian Aqiidah Di Masjid Al-Muhajirin Desa Ogoansam Kec. Palasa Sulawesi Tengah. Kamis Malam Jum`at Akhir Bulan, 17 Al-Muharram H/27 September 2018 M. Kajian Ini Banyak Merujuk Pada Buku At-Tauhiid Lish-Shaffil Awwal Al-`Ali Karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Jum`at 18 Al-Muharram H/28 September 2018 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *