DUKUN SAKTI

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

Kahin (dukun) adalah orang yang mengambil informasi dari syaithan yang mencuri pendengaran dari langit. Atau dapat dikatakan bahwa dukun adalah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara ghaib yang akan terjadi di masa yang akan datang atau yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang tersimpan dalam hati seseorang.

Sebelum Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- diutus, dukun-dukun tersebut berjumlah sangat banyak, tetapi setelah diutusnya beliau maka jumlah mereka berkurang (sedikit), karena Allah menjaga langit dengan adanya bintang-bintang.

Allah berfirman:

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Artinya: “Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami (jin) tidak mengetahui (adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan baginya”. (Surat Al-Jin 8-10).

Kebanyakan yang terjadi pada ummat ini adalah apa yang dikabarkan oleh jin kepada budak-budaknya -dari golongan manusia- tentang berita ghaib yang terjadi di bumi, maka orang bodoh mengira bahwasanya itu adalah kasyf (penyingkapan sesuatu yang ghaib) dan karamah! Sungguh telah banyak orang yang tertipu dengan hal itu. Mereka menganggap orang yang menyampaikan kabar dari jin itu adalah wali Allah, padahal sebenarnya ia adalah wali syaithan!! (Lihat Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid bab Maa Jaa’a fil Kuhhan wa Nahwihim halaman 333 tahqiq Dr. Walid bin ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Furaiyan).

Saat ini, banyaknya para dukun yang mengaku sebagai ahli pengobatan alternatif dan ternyata mereka mengobati lewat sihir atau perdukunan.

Mereka tersebar di beberapa wilayah dan berusaha untuk mengelabui orang-orang yang awam, maka sangat penting untuk dijelaskan tentang bahaya besar yang mengancam umat Islam karena aktifitas tersebut berisi ketergantungan kepada selain Allah serta menyelisihi perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya.

Orang yang sakit tidak boleh pergi kepada dukun dengan tujuan untuk mencari solusi kesembuhan bagi penyakitnya. Demikian pula tidak boleh mempercayai apa yang mereka beritakan, yang mereka sampaikan. Sebab, mereka berbicara tentang perkara gaib dengan menerka-nerka atau mendatangkan jin untuk meminta bantuan kepadanya terhadap apa yang mereka inginkan. Mereka ini dihukumi sebagai kafir dan sesat ketika mereka mengklaim mengetahui perkara gaib.

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Artinya: “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima”. (Riwayat Muslim no. 2230).

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh Imam Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.” (Syarh Shahih Muslim [14: 227]).

Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam- juga bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya: “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad”. (Riwayat Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Untuk di negeri kita, dukun lebih dimaknai kepada hal yang berkaitan dengan pengobatan, mencari kesembuhan, memberi jampi-jampi untuk sebuah penglaris atau juga pengasihan, dan sejenisnya. Sebagaimana dalam KBBI dukun/du·kun/ n orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dan sebagainya).

Semoga bermanfaat. Segala puji untuk Allah yang dengan nikmat-Nya terselesaikan amal-amal shalih.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa 23 Jumaadal Uula 1440 H/29 Januari 2019 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *