FAEDAH HADITS RIYADHUS SHALIHIN (Hadits Ke 02) DIBANGKITKAN SESUAI NIATNYA

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

وَعَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللَّهِ عَائشَةَ رَضيَ الله عنها قالت: قالَ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوا ببيْداءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بأَوَّلِهِم وَآخِرِهِمْ”. قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بَأَوَّلِهِم وَآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنهُمْ،؟ قَالَ: ” يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِم وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُون عَلَى نِيَّاتِهِمْ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: هذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ

Artinya: Dari Ummul Mukminin, Ummu `Abdillah, `Aisyah –radhiyallahu`anhu- ia berkata: Rasulullah-shallalllahu`alaihi wa sallam- bersabda: “Nanti akan ada sekelompok pasukan yang akan menyerang Ka’bah. Kemudian ketika mereka sampai di suatu tanah lapang, mereka semua dari orang yang berada paling depan sampai paling belakang dibinasakan yakni ditenggelamkan ke perut bumi. ‘Aisyah berkata: “Aku bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana mereka dibinasakan semua, orang yang berada dibarisan terdepan sampai yang paling belakang, padahal di tengah-tengah mereka terdapat pasar-pasar mereka, dan orang-orang yang bukan dari golongan mereka?”. Beliau menjawab: “Mereka di binasakan semua, yang berada di baris terdepan sampai yang paling belakang, kemudian nanti mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat masing-masing dari mereka”. (Riwayat Al-Bukhari no. 2118, Muslim no. 2884).

SYARAH SINGKAT:

Allah -subhanahu wa Ta`ala- akan senantiasa menjaga baitullah (Ka`bah) dari serangan orang-orang yang hendak menghancurkannya atau dari mereka-mereka yang menghalang-halangi manusia dari menghadiri masjidil haram. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya: “Sungguh, orang-orang kafir dan yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan dari Masjidilharam yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih”. (Surat Al-Hajj: 25).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`diy menjelaskan ayat ini: Allah -subhaanahu wa Ta`aala- memberitahukan mengenai kebusukan orang-orang musyrik yang kafir kepada Tuhan mereka, di mana mereka menggabung antara kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, menghalangi manusia dari jalan Allah dan melarang manusia beriman, dan menghalangi manusia dari Masjidil Haram yang sesungguhnya bukan milik mereka dan bukan milik nenek moyang mereka, bahkan dalam hal ini manusia sama (sederajat), baik yang menetap di sana maupun yang pendatang. Bahkan mereka telah menghalangi orang yang terbaik, Muhammad –shallallahu`alaihi wa sallam- dan para shahabat beliau. Padahal, termasuk bagian dari kesucian, penghormatan dan kebesaran Masjidil haram, bahwa: “dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih”. Maka hanya dalam bentuk keinginan semata saja untuk berbuat aniaya dan ilhad (maksiat) di wilayah haram dapat berkonsekuensi mendatangkan siksaan, walau pun di tempat lainnya, seorang hamba tidak dikenai hukuman kecuali setelah mengerjakan kedzoliman (tidak sekedar niat saja). Lalu bagaimana jika yang dilakukan adalah kezaliman yang paling buruk, berupa kufur dan kesyirikkan, menghalangi manusia dari Masjidil Haram, dan menghalangi orang yang hendak ziarah kepadanya? Menurut mereka kira-kira apa tindakan Allah yang akan Allah perbuat terhadap mereka? Dalam ayat yang mulia ini terdapat dalil wajibnya memuliakan tanah haram, tingginya tingkat pengagungan terhadapnya, serta memberikan peringatan dari niatan untuk berbuat maksiat di dalamnya dan atau benar-benar mewujudkannya. (Lihat Kitab Taisiiru Al-Kariim Ar-Rahmaan Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan, Hal. 536 Cet. Maktabah An-Nubala’. Karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`diy).

Mereka yang hendak menghancurkan Ka`bah ini akan sampai di sebuah tanah lapang, tiba-tiba di situ Allah tenggelamkan mereka semuanya, termasuk siapa saja yang berada di tempat tersebut pun Allah tenggelamkan ke perut bumi, meskipun tidak punya niat untuk menyerang Ka`bah, meskipun keberadaannya adalah untuk berbelanja di pasar-pasar, atau karena urusan lain.

Ketika Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- menyampaikan hal ini, terlintaslah pada pemahaman `Aisyah –radhiyallahu`anha- tentang bagimana mungkin mereka semuanya yang dibinasakan, yakni orang yang berada dibarisan terdepan sampai yang paling belakang, padahal di tengah-tengah mereka terdapat pasar-pasar mereka, dan orang-orang yang bukan dari golongan mereka? Dan Nabi menyuguhkan jawabannya: “Mereka di binasakan semua, yang berada di baris terdepan sampai yang paling belakang, kemudian nanti mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat masing-masing dari mereka”.

Ini termasuk mutiara faidah dari sabda beliau yang lain tentang niat bahwa:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan seperti apa yang ia niatkan”. (Riwayat Al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2201, At-Tirmidzi no. 1647, Ibnu Majah no. 4227).

FAIDAH HADITS:

1). Hendaknya menjauhi orang-orang yang berbuat kezhaliman sekaligus peringatan agar tidak bergaul dengan mereka atau bergabung dengan orang-orang jahat dan semisalnya, agar tidak mendapatkan siksaan yang ditimpakan kepada mereka. (Lihat Kitab Bahjatun-nadzirin Syarhu Riyadhish-shalihin, Hal. 28 Cet. Daar Ibnul Jauziy. Karya Asy-Syaikh Salim bin `ied Al-Hilaliy).

2). Barang siapa bergabung dengan suatu kaum dengan sukarela dalam kemaksiatan, maka dosa dan siksaan akan ditimpakan pula kepadanya. (Lihat Kitab Bahjatun-nadzirin Syarhu Riyadhish-shalihin, Hal. 28 Cet. Daar Ibnul Jauziy. Karya Asy-Syaikh Salim bin `ied Al-Hilaliy).

3). Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`diy menjelaskan saat mensyarah firman Allah:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya”. (Surat Al-Anfal: 25).

Beliau berkata: “akan tetapi siksaan itu akan menimpa pelaku kedzoliman dan juga selainnya. Hal itu bila kedzoliman muncul dan dibiarkan (tidak dirubah), maka adzabnya akan menimpa pelakunya dan selainnya. Cara menghindari fitnah ini adalah dengan melarang kemungkaran dan melawan para pengusung kejahatan dan kerusakan serta tidak memberi mereka peluang untuk berbuat dosa dan kemaksiatan sebisa mungkin. (Lihat Kitab Taisiiru Al-Kariim Ar-Rahmaan Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan, Hal. 318 Cet. Maktabah An-Nubala’. Karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`diy).

4). Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran bahwa barangsiapa yang bersama ahli bathil, orang-orang yang menyimpang, musuh-musuh Allah, tempat-tempat kesyirikan, niscaya akan ikut merasakan akibatnya tatkala adzab Allah turun di tempat tersebut, adzab itu bila hadir maka akan menyapu bersih tanpa menyisakan seorang pun (kecuali yang Allah kehendaki), lalu di hari kiamat nanti akan dibangkitkan dan dihisab berdasarkan niatnya masing-masing. Sebagaimana sabda beliau yang lain tentang niat bahwa:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan seperti apa yang ia niatkan”. (Riwayat Al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2201, At-Tirmidzi no. 1647, Ibnu Majah no. 4227).

5). Dari sini kita juga mendapat pelajaran berharga, hendaknya menjauhi tempat-tempat yang di dalamnya terdapat kemungkaran, baik itu tempat rekreasi apatah lagi tempat-tempat sesaji, ataupun tempat-tempat yang diagungkan oleh mereka yang menyembah selain Allah, belum lagi bila di sana terdapat patung-patung yang disembah, aurat yang dipertontonkan, tempat-tempat tersebut sangat tidak layak di datangi oleh seorang muslim apalagi mengaku penuntut ilmu syar`I yang mestinya paham bagaimana upaya keras Rasulullah dalam melenyapkan simbol dan sarana-sarana kesyirikan. Di antara bentuk mushibah hari ini adalah dijadikannya tempat-tempat wisata dari peninggalan kuno yang mestinya dihancurkan namun kini disebabkan jauhnya ilmu malah menjadi warisan budaya yang dianggap layak dikenang, tidak sedikit yang berbangga berselfi ria bila telah bisa menyatu dengannya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Tempat yang mestinya menjadikan kaum muslimin marah karena Allah malah dijadikan tempat tertawa bahagia.

6). Pemberitahuan yang disampaikan Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- tentang berbagai hal ghaib yang diperlihatkan Allah kepada beliau itu adalah termasuk masalah keimanan yang harus diyakini, tidak boleh diingkari, karena konsekuensi seorang hamba tatkala bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah maka wajib baginya meyakini setiap kabar yang beliau beritakan, baik yang pernah terjadi di masa dahulu, maupun sedang terjadi atau pun yang belum dan akan terjadi.

7). Siksaan itu jika ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat kerusakan, maka akan mencakup pula orang-orang shalih di sekitar mereka yang tidak marah karena Allah (ketika melihat satu kemungkaran). Mereka yang shalih namun tidak merasa takut terhadap fitnah yang bisa menjadi sebab datangnya dazab maka mereka adalah termasuk orang yang terseret dalam kedzaliman, meskipun mereka sama sekali tidak menginginkan adzab tersebut. Oleh karena itu, mereka di padukan dengan orang-orang zhalim.

Allah berfirman :

فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Artinya: “Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang yang telah Kami selamatkan. Dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (beriman)”. (Surat Hud: 116-117).

Umat-umat yang di antara mereka terdapat orang-orang yang berbuat zhalim dan melakukan kerusakan, lalu tidak ada seorang pun yang bangkit mencegahnya, atau ada yang mengingkarinya, namun ia tidak sampai memberi pengaruh terhadap kenyataan yang rusak itu, maka sunnatullah akan berlaku kepada mereka, yaitu berupa pembinasaan, baik pembinasaan sampai ke akar-akarnya atau pembinasaan yang bersifat kelemahan dan kerusakan. Namun keduanya berakibat melenyapkan dan penggantian (oleh kaum yang lain).

8). Anjuran untuk berdakwah di jalan Allah dan anjuran pembersihan bumi dari kerusakan dan kemaksiatan yang telah merajalela. Dakwah adalah benteng keamanan bagi seluruh umat dan bangsa. Dan para ahli dakwah, (dengan dakwahnya tersebut) mereka tidak hanya melaksanakan kewajiban terhadap Rabb dan Agama mereka saja, namun dengan berdakwah maka mereka telah menghalangi umat-umat dari murka Allah dan adzab-Nya.

9). Adzab Allah kepada hamba-hamba-Nya itu jenisnya berbeda-beda, misalnya Fir`aun Allah tenggelamkan ke dalam lautan (Lihat Surat Al-Baqarah Ayat 50). Ummatnya Nabi Luth yakni kaum Sodom Allah jungkir-balikkan bagian atas bumi mereka ke bawah dan penduduknya dihujani batu dari tanah yang keras secara bertubi-tubi sehingga mereka semua binasa (Lihat Surat Al-Ankabut Ayat 40). Ummatnya Nabi Nuh Allah tenggelamkan dalam air bah (Lihat Surat Al A’raf Ayat 64). Ummatnya Nabi Hud yakni kaum `Aad Allah binasakan dengan adzab berupa angin yang sangat dingin dan sangat kencang selama tujuh malam delapan hari (Lihat surat Al-Haqqah Ayat 6 – 8). Ummatnya Nabi Shalih yakni kaum Tsamud Allah binasakan dengan suara petir yang menggelegar dan bumi yang mengalami gempa dan bergetar (Lihat Surat Al Hijr Ayat 83 Dan Surat Surat Al A’raf Ayat 78). Kaum yahudi ada pula yang Allah adzab dengan dirubah menjadi kera (Lihat Surat Al-Baqarah: 65 Dan Surat Al-A’raf: 166).

Dalam hadits ini Allah memberikan adzab berupa ditenggalamkannya mereka ke perut bumi, adzab demikian bukanlah jenis adzab yang pertama kali untuk mereka, bahkan sebelum mereka telah ada kisah Qarun yang Allah tenggelamkan ke dalam bumi beserta istananya (Lihat Surat Al-Ankabut Ayat 40).

Tidak hanya itu, Allah juga akan menenggelamkan ke dalam bumi orang-orang yang bergoyang-goyang dengan alat-alat musik dan para penyanyi wanita, Rasulullah -shallallaahu’alaihi wa sallam- bersabda:

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ ، يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا ، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ ، يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمْ الْأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Artinya: “Sungguh akan ada segolongan manusia dari umatku yang minum khamar, mereka namakan khamar itu bukan dengan namanya yang sebenarnya. Kepala mereka bergoyang-goyang dengan alat-alat musik dan para penyanyi wanita. Allah akan menenggelamkan mereka ke bumi dan menjadikan diantara mereka kera-kera dan babi-babi”. (Riwayat Ibnu Majah dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallaahu’anhu, Al-Misykaah: [4292]).

Nabi juga mengisahkan tentang laki-laki yang menyombongkan diri dengan menyeret pakaiannya melebihi mata kaki bahwa laki-laki tersebut akhirnya Allah tenggelamkan. Beliau bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَجُرُّ إِزَارَهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ خُسِفَ بِهِ ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Tatkala seorang laki-laki melabuhkan pakaiannya, tiba-tiba dia dibenamkan ke dalam tanah. Maka ia pun timbul tenggelam ke dalam tanah (dengan suara gemuruh) sampai hari kiamat”. (Riwayat Bukhari, no. 5790 dan At-Tirmidzi, no. 2491).

10). Jangan merasa aman dari makar Allah, Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (Surat  Al-A’raf: 99).

Semoga bermanfaat. Segala puji untuk Allah yang dengan nikmat-Nya terselesaikan amal-amal shalih, tulisan ini adalah faidah dari materi kajian pekanan di markaz kajian Riyadhush-Shalihin desa Sumberagung Kec. Mepanga Sulawesi Tengah.

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Selasa Malam Rabu 26 Syawal 1439 H/ 10 Juli 2018 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *