SAAT-SAAT TERASING

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

Dalam berdakwah, lelah itu pasti, Letih itu sebuah keniscayaan, namun kedua kata itu tak cukup untuk mewakili alasan kita untuk berhenti mengajak manusia kepada hidayah.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas –hafidzahullah- menulis: Kita berdakwah mengajak ummat kepada jalan yang haq ini tidak lepas dari orang-orang yang menentang, mencemooh, mencela, melecehkan, memfitnah dan lain-lain. Maka kewajiban kita adalah BERSABAR. Kita wajib berdakwah kepada mereka dengan ILMU, LEMAH LEMBUT, DAN KESABARAN. Tidak perlu kita MEMBALAS mereka dengan celaan pula. Kewajiban kita adalah menyampaikan, maka kita wajib bersabar dan tinggalkan mereka dengan cara yang baik. Karena ketika kita mendakwahkan dakwah ini, kita akan menjadi ASING di tengah-tengah mereka. Karena `aqidah yang mereka pegang itu berbeda dengan `aqidah yang dibawa para ulama` salaf. `Aqidah mereka penuh dengan kesyirikan dan takwil.

Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Artinya: “Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah bagi al-ghurabaa’ (orang-orang asing itu)”. (Shahih: HR. Muslim no. 145 dari Shahabat Abu Hurairah –radliyallahu`anhu-).

Sedangkan makna al-ghurabaa’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Amr bin Al-`Ash –radliyallahu`anhu- ketika Rasulullah –shallallahu`alaihi wa sallam- suatu hari menerangkan tentang makna al-ghurabaa’, beliau –shallallahu`alaihi wa sallam- bersabda:

أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

Artinya: “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang menaati mereka”. (Shahih: HR. Ahmad [II/177, 222] dan Ibnu Wadhdhah no. 168. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin `Ied Al-Hilaliy dalam Basha’iru Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyyati Manhajas Salaf hal. 125-126).

Maka ia menjadi:
1. Asing dalam agamanya karena rusaknya agama mereka.
2. Asing dalam berpegang dengan sunnah karena kuatnya mereka memegang bid`ah.
3. Asing dalam `aqidahnya karena rusaknya aqidah mereka.
4. Asing dalam shalatnya karena buruknya shalat mereka.
5. Asing dalam jalannya karena sesat dan rusaknya jalan mereka.
6. Asing dalam nisbatnya karena bertentangan dengan nisabat mereka.
7. Asing dalam interaksinya kepada mereka karena dia memperlakukan mereka dengan suatu yang tidak cocok dengan selera mereka.

Secara garis besar, dia menjadi asing dalam urusan dunia dan akhiratnya. Dia tidak mendapatkan orang-orang yang membantu dan menolongnya dari orang-orang awam. (Disalin Dari Buku MULIA DENGAN MANHAJ SALAF, halaman 251, 252, 253. Karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas –hafidzahullah-).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Sabtu 08 Shafar H/28 Oktober 2017 M.

(Artikel Ini Pernah Dimuat Dalam Akun Facebook Abu Uwais Musaddad Pada Status No. 1164).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *