DOSA YANG DISEMBUNYIKAN

Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais

Amalan yang tidak mudah –kecuali bagi mereka yang Allah mudahkan-, yaitu menjaga batasan Allah di kala sepi, atau tidak meremehkannya baik ketika sendiri terlebih lagi ketika berramai-ramai. –Ketahuilah-semoga Allah merahmati kita!! Menerjang larangan Allah di kala sepi ini dapat membatalkan amal shalih yang telah terajut kuat. Diriwayatkan dari Tsauban bahwa Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا. قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Artinya: “Dari Tsauban, dari Nabi -shallallahu `alaihi wa sallam-, ia berkata: Sungguh aku mengetahui suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran. Tsauban berkata: Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat-sifat mereka kepada kami agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa sadar!.”

Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda: Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang JIKA BERSEPIAN MEREKA MEROBEK TIRAI UNTUK BISA BERMAKSIAT PADA ALLAH.” (Riwayat Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Sifat tersebut adalah sifat atau keadaan orang-orang munafiq (amaliy bukan i`tiqadiy alias tidak mengeluarkannya dari Islam).

Adapun orang-orang yang beriman, dengan keimanan yang baik, kalaulah ia terjatuh dalam salah dan dosa, ia merasa penuh sesal dan dadanya sesak, hatinya menjerit tak ingin jatuh dalam dosa yang sama. Sebagaimana sabda Nabi:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Artinya: “Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu terungkap di tengah-tengah manusia”. (Riwayat Muslim no. 2553).

Asy-Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi berkata: ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun diiringi PENUH penyesalan. Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena ASALNYA orang semacam itu mengagungkan syari’at Allah. Namun ia terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan maksiat dalam keadaan berani (meremehkan) Itulah yang membuat amalannya terhapus. (Syarh Zaad Al-Mustaqni’, no. pelajaran 332).

Semoga Allah memudahkan kita untuk menghindari menerjang dosa di kala sendiri di saat sepi, semoga Allah membimbing hati kita untuk memiliki rasa sesal dan taubat atas dosa yang terlanjur terjadi, semoga Allah memudahkan pula bagi kita untuk tidak membuka aib kita sendiri yang tersembunyi atau Allah tutupi dari pengetahuan manusia.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu-, beliau mendengar Rasulullah -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Artinya: “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi”. (Riwayat Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990).

Terakhir, Hudzaifah bin Qatadah -rahimahullah- berkata:

إن أطَعتَ الله في السِّرِّ، أصلحَ قلبك شِئتَ أم أبَيت

Artinya: “Jika engkau mentaati Allah ketika tidak dilihat oleh orang lain, niscaya Allah akan menjadikan hatimu baik, entah engkau mau atau tidak mau”. (Shifatus Shafwah, jilid 2 hlm. 270).

|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Senin 20 Jumaadal Aakhirah 1440 H/ 25 Februari 2019 M.

Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.

REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000

PROPOSAL SINGKAT DI http://minhajussunnah.or.id/santri/proposal-singkat-program-dakwah-dan-pesantren-minhajussunnah-al-islamiy-kotaraya-sulawesi-tengah/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *