AMALAN-AMALAN SUNNAH BULAN DZULHIJJAH
AMALAN-AMALAN SUNNAH BULAN DZULHIJJAH
Ditulis Oleh: Mukhlisin Abu Uwais
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
Artinya: “Tidak ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para Sahabat pun bertanya : “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah ?” Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (karena mati syahid).” (HR Al-Bukhari no. 969 dan At-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat At-Tirmidzi).
Amalan-amalan sunnah pada bulan Dzulhijjah, di antaranya :
- Berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah.
Diriwayatkan oleh salah seorang istri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ
Artinya: “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan puasa sembilan hari bulan Dzulhijjah (HR. Abu Daud no. 2129 dan An-Nasa’i no. 2236).
- Puasa Arafah.
Ketika Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang puasa Arafah, beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya: “Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim no. 1162).
Puasa ini disunahkan bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Bagi mereka yang sedang berhaji, tidak diperbolehkan berpuasa. Pada hari itu mereka harus melakukan wukuf. Mereka harus memperbanyak dzikir dan doa pada saat wukuf di Arafah. Sehingga, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan keutamaan hari Arafah dalam sebuah hadits riwayat Muslim:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Artinya: “Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah.” (HR. Muslim n0. 1348).
Hadits ini dengan gamblang menunjukkan keutamaan hari Arafah.
- Berqurban pada hari raya kurban dan hari-hari Tasyriq.
Anas -Radhiyallahu ‘anhu- menceritakan:
ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Artinya: “Nabi berqurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966).
- Ibadah haji dengan segala rangkaiannya.
Sudah tidak asing lagi bagi kaum Muslimin, baik yang belum berkesempatan melaksanakan ibadah haji maupun yang sudah melaksanakannya, tentang keadaan ibadah yang agung ini. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Artinya: “Tidak balasan lain bagi haji mabrûr kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)
Itulah di antara ibadah-ibadah yang disyari’atkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Setelah melakukan berbagai amal shalih di atas, kita jangan lupa berdo’a agar Allah Azza wa Jalla berkenan menerima amal ibadah yang telah dilakukan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihssallam dan Nabi Isma’il ‘Alaihissallam bahwa ketika mereka akan selesai melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla untuk membangun Ka’bah, maka mereka berdo’a:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya: “Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2: 127).
Ini merupakan wujud kehati-hatian dan ketawadhu’an, barangkali dalam pelaksanaan ibadah yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan kepada kita ada yang kurang syarat atau lain sebagainya.
Kalau Nabi Ibrahim ‘Alaihssallam dan Nabi Isma’il ‘Alaihissallam saja berdo’a agar amalan mereka diterima, maka kita tentu lebih layak.
|Kotaraya, Sulawesi Tengah. Sabtu 29 Dzulhijjah 1445 H / 06 Juli 2024 M.
Silahkan Dukung Dakwah Pesantren Minhajussunnah Al-Islamiy Desa Kotaraya Sulawesi Tengah Dengan Menjadi DONATUR.
REKENING DONASI: BRI. KCP. KOTARAYA 1076-0100-2269-535 a.n. PONPES MINHAJUSSUNNAH KOTARAYA, Konfirmasi ke nomer HP/WA 085291926000
