Kacamata Sudut Pandang

Jika Edward de Bono mempunyai konsep topi berfikir, saya punya konsep kacamata sudut pandang. Kacamata sudut pandang ini dapat dijelaskan menggungkan analogi seperti ini. Bayangkan ada beberapa kacamat dengan varian warna mulai dari merah, hijau, kuning, biru dan warna yang lainnya. Saat kita menggunakan kacamata merah, kita melihat dunia kita dominan berwarna merah dan segalanya nampak berwara merah. Saat kita menggantinya dengan warna hijau, kita akan melihat segalanya dengan warna hijau demikian seterusnya.

Demikianlah cara kita melihat segalanya, kita sebetulnya menggunakan “kacamata warna” di dalam pikiran kita dan mulai memberi warna pada setiap benda.

Mereka yang sangat taat dengan keyakinan agama mereka menghubungkan segalanya dan segala peristiwa dengan tuhannya. Orang yang rasional menganggap segalanya teradi dengan hukum-hukum alam. Orang ynang neatif menganggap segalanya buruk dan meyusahkan dirinya. Orang yang bersyukur akan melihat segalanya berjalan sesuai atau bahkan lebih dari yang ia harapkan.

Apa saja yang memberikan warna pada kacamata kita?

Pengalaman

Melalui peristiwa yang kita alami di dalam hidup, kita menarik kesimpulan atas apa yang terjadi atau yang telah terjadi sehinga memberikan arti terhadap peristiwa. Peristiwa yang sama dapat diartikan berbeda antara orang yang pesimis dengan orang yang optimis. Dalam hal ini, pikiran kitalah yang memberikan warna/ arti terhadap peristiwa tertentu. Sebagai contoh, dua orang yang dipecat dari sebuah perusahaan dapat menanggapi hal yang berbeda satu sama lain. Yang satu menganggap bosnya tidak tau terimakasih, kejam, berengsek dan hal yang negatif lainnya. Yang satu lagi dapat mengartikan bahwa inilah kesempatannya untuk memulai karir baru/ berwirausaha. Yang satu memberikan warna pada kacamatanya bahwa orang lain tidak pernah memahami dirinya. Dan saat ia menghadapi orang lain yang mirip bosnya ia akan menghindar. Yang satu lain menganggap dirinya adalah orang yang beruntung karena diberi kesempatan untuk memulai karir baru/ wirausaha. Dan dalam hidupnya ia akan memandang bahwa segala hal yang terjadi berpihak kepada dirinya.

Pengamatan/ perenungan

Pengamatan/ perenungan atas apa yang telah terjadi memberikan gambaran umum atau kesimpulan umum yang nantinya dapat menjadi tolok ukur dalam mempersepsikan sesuatu. Perenungan dilakukan oleh seorang yang memiliki intelektual yang tinggi yang sepintas kita lihat, mereka hanya duduk dengan tampang muka kebingungan. Pada akhirnya mereka merasa lega saat mereka menemukan jawaban yang ada dipikirannya sendiri. Mereka bertanya, kemudian mereka sendirilah yang menjawab bertanyaan mereka. Inila yang disebut dengan hakikat berfikir. Hakikat berfikir adalah proses tanya-jawab dengan diri sendiri. Dengan menghubungkan informasi yang ada dalam pikiran dapat memberikan kesimpulan umum/ kesimpulan baru yang menjadi warna pada kacmata sudut pandang yang memberikan persepsi tertentu terhadap sesuatu.

Pengetahuan

Pengetahuan merupakan contoh nyata yang sangat jelas untuk menjelaskan kacamata sudut pandang ini. Kita didik untuk dapat “memiliki kacamat warna yang banyak” sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan dimasa depan. Kita dijejali oleh “warna” matematika, “warna” biologi, “warna”sejarah dengan harapan saat bertindak atau mengalami peristiwa kita dapat berfikir sesuai dengan “yang seharusnya”.

Saat seorang ahli komputer, dokter otak, dan industrialis mendengar kata “alat untuk memproses” ahli komputer membayangkan seongkok komputer yang berfungsi sebagai alat untuk memproses data, dokter otak akan membayangkan otak yang merupakan alat untuk memproses informasi, dan industrialis akan membayangkan mesin sebagai alat untuk memproses produk. Kata yang sama dilihat dengan kacamata yang berbeda.

Perdebatan

Akar perselisihan dan perdebatan berawal dari kacamata sudut pandang yang tidak sama antara seseorang dengan yanglainnya. Saat seseorang menggunakan kacamata hijau melihat kertas putih akan menyimpulkan kertas putih tersebut berwarna hijau. Namun tidak bagi orang yang menggunakan kacamat hijau. Mereka akan melihat kertas putih sebagai kertas hijau. Dan mereka saling berdebat tentang apa warna ketas tersebut dan saling mengklaim bahwa masing-masing dari mereka benar dan yang lain salah.

Lantas kacamata banya yang harus digunakan?

Edward de Bono dalam Six Thingking Hats  menjelaskan bahwa setidaknya ada 6 pikiran yang saling mengambil peran, pengaruh, mengambil alih pikiran. Kemudian diperlukan kebijaksanaan kepemimpinan yang menentukan topi mana yang harus digunakan. Topi yang menentukan topi mana yang harus digunakan adalah tugas topi biru. Topi biru berhak menentukan topi mana yang telebih dahulu yang berbicara dan yang lain diam mendengarkan.

Dalam kacamata sudut pandang, kacamata beninglah yang mengambil peran sebagaimana topi biru. Ingat, kejadian di dunia ini netral, tidak ada artinya, pikiranlah yang menentukan dan memberi arti terhadap kejadian tertentu. Apakah itu kejadian yang menyenangkan ataukah kejadian yang menyedihkan. Saat kita sedang berfikir tentang suatu masalah, kita menggunakan kacamata bening dan menentukan apa yang sebenarnya menjadi masalah.

“jika saya diberi waktu saya akn mengunakan 90% untuk mencari tau masalahnya dan 10% untuk mencari solusi.”-Albert Eninstein dalam Aquariuslearning.co.id

Sebagian besar dari kita sering mendenar kata kata “fokus pada solusi, bukan pada masalah”, hal ini karena sebagian dari kita membesar-besarkan masalah yang terjadi sehingga tidak fokus pada masalah yang sebenarnya, pikiran menjadi keruh, masalah seolah terlihat besar. Namun yang dimaksud fokus pada masalah kali ini adalah mencari tau apa sebetulnya yang menjadi masalah yang sedang kita hadapi.

Contonya saya pernah tidakmembawa pulpen saat ujian. Dari peristiwa ini saya menemukan masalah.

Masalah: pulpen ketinggalan.

Solusi: Jika masalahnya adalah pulpen ketinggalan, saya akan fokus mencari solusi agar pulpen yang tertinggal itu dapat saya ambil.

Solusi yang muncul antara lain:

-meminta teman kos saya membawakan pulpen yang tertinggal ke kampus saat berangkat ke kampus.

-pulang untuk mengambil pulpen.

Namun masalah yang sebenarnya adalah tidak punya alat untuk menjawab soal ujian sehingga saya dapat menemukan solusi yang lebih tepat seperti:

-meminjam pulpen orang lain.

-membeli pulpen di toko.

-menggunakan alat tulis lain jika memungkinkan.

Dan kasus sederhana ini terjadi sehari hari di kehidupan kita. Banyak yang tidak sadar mereka terus mencari solusi yang sebetulnya masalahnya lah yang harus dipertanyakan kembali dan menemukan dengan tepat dan mendalam apa yang sebenarnya menjadi masalah kemudian baru setelah itu mencari solusi yang fleksibel untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Mungkin ada diantara pembaca yang berniat menambahkan dalam konsep kacamata sudut pandang entah memberikan warna tertentu untuk cara berfikir tertentu atau yang lainnya penulis akan sangat senang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *